Two side

Why you like that?

Oleh: Lisa Nuryanti
International Director John Robert Power

Setiap orang pasti memiliki keinginan, cita-cita, tujuan atau impian. Ada yang berusaha keras untuk mencapainya, ada juga yang malas-malasan. Kalau berhasil lumayan, namun kalau gagal ya tak masalah. Ada orang yang bekerja dengan jujur dan berpegang pada prinsip hidup tertentu, ada juga yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Jenis orang yang memiliki kecenderungan menghalalkan segala cara ini ternyata cukup banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu hari Alia diterima menjadi sales manager di suatu perusahaan ekspor alat-alat kantor. Dia diterima oleh pemilik perusahaan tersebut, dan kemudian mengenalkannya kepada karyawan lain. Di sana ada seorang karyawan pria, sales supervisor, yang sudah bekerja selama 9 tahun di perusahaan itu. Pria ini tentu saja merasa tidak suka pada manajer wanita baru ini. Ia merasa seharusnya ialah yang diangkat menjadi sales manager, bukan orang luar yang baru saja bergabung.

Kemudian ia berusaha dengan segala cara, termasuk mendekati istri pemilik perusahaan, dan mempengaruhinya agar membenci manajer baru ini. Akhirnya memang manajer baru ini tidak betah dan mengundurkan diri.

Tapi apakah dengan demikian si sales supervisor ini lalu bisa langsung menjadi sales manager? Tidak juga, karena memang si pemilik menilai bahwa ia belum mampu menduduki jabatan tersebut.

Memang, di setiap perusahaan ada saja orang-orang yang tingkah lakunya kurang sesuai dengan etos kerja profesional. Bila seseorang tidak suka dengan orang lain, ia lalu mencari cara agar orang lain juga tidak menyukai orang tersebut. Seperti yang dilakukan si sales supervisor dengan mempengaruhi isteri pemilik perusahaan agar tidak menyukai manajer baru tersebut. Tentu saja ia berharap apabila istri bos sudah tidak suka, maka bosnya pasti akan terpengaruh juga oleh istrinya. Nah, kalau bosnya sudah tidak suka juga, berarti jalan menuju sukses sudah ada di tangannya.

Bukankah paling enak mencari kesalahan orang lain? Gampang sekali memang. Yang namanya manusia, siapa yang tidak pernah berbuat salah? Maka semua kesalahan yang diperbuat si sales manager baru ini langsung dilaporkan ke atasan oleh orang yang tak menyukainya, tentunya setelah ditambah berbagai bumbu lain agar lebih seru. Belum lagi kalau ada pengaruh dari teman-teman lainnya, sehingga mereka ikut berlomba-lomba menjadi tukang lapor.

Di lain pihak, si sales supervisor merasa bahwa ia hanya melakukan hal yang wajar. Bukankah kalau ada kesalahan yang terjadi, bos harus tahu? Jadi ia menghalalkan tindakannya dengan menganggap dirinya justru membantu bos dan perusahaan. Dia malah merasa berjasa bagi perusahaan.

Tapi, apa sebenarnya yang harus dilakukan? Apakah tidak boleh melapor kepada atasan apabila terjadi suatu kesalahan? Bagaimana kalau ada teman yang curang? Apakah harus lapor, atau demi melindungi teman, sebaiknya diam saja? Atau siapapun yang berbuat kesalahan, wajib dilaporkan ke atasan?

Sebenarnya kita perlu melihat dulu arti ‘melapor’ dan ‘mengadu’ Apa perbedaannya? Orang sering berdalih bahwa ia hanya lapor ke atasan, masa tidak boleh? Padahal yang dilakukannya bukan melapor, tetapi mengadu.

Melapor berarti menyampaikan berita mengenai fakta yang terjadi. Dalam laporan tidak terdapat maksud tersembunyi untuk menjatuhkan orang lain, fitnah, atau ingin membuat orang lain tidak disukai. Tidak ada unsur negatif atau maksud jelek lainnya. Laporan harus sesuai kenyataan, apa adanya saja.

Berbeda dengan mengadu. Mengadu mengandung unsur kurang baik. Biasanya seorang anak kecil mengadu pada orangtuanya dengan harapan agar orang tua bertindak untuk membelanya dan menghukum anak lain yang dianggapnya bersalah. Jadi dalam mengadu, didapati unsur ingin merugikan orang lain. Sama halnya apabila di perusahaan ada rekan kerja yang ingin agar bos tidak menyukai seseorang, maka ia dapat mengadu dan menceritakan segala kejelekan orang tersebut, terlepas dari benar tidaknya pengaduan itu.

Di sebuah perusahaan, ada seorang general manager yang baru masuk, ternyata tidak disukai oleh direktur, marketing manager dan finance managernya. Mengapa? Dia diberi jabatan itu oleh pemilik perusahaan, sehingga yang lain merasa iri. Selain iri, mereka juga merasa tidak aman lagi, takut posisinya terganggu, takut ada orang lain yang lebih dipercaya, takut ada orang lain yang menemukan kekurangan mereka. Maka rajinlah mereka setiap saat mengadu kepada bos tentang kekurangan orang baru ini. Tapi untunglah bos ini bijaksana dan berkepribadian kuat, tidak gampang terpengaruh omongan orang lain. Ia tidak termakan oleh hasutan orang lain. Ia memiliki penilaian sendiri, sehingga usaha mereka gagal. General manager ini tidak dipecat, malah ia semakin dipercaya karena bos melihat hasil kerjanya yang nyata.

Apa yang harus dilakukan apabila salah seorang rekan kerja memiliki penyakit sebagai tukang mengadu semacam ini? Biasanya orang seperti ini bersifat arogan, ia akan sering menonjolkan kelebihannya, terlepas dari apakah semua itu benar atau salah. Orang-orang ini sebenarnya kurang memiliki rasa percaya diri, mereka merasa tidak aman dan terancam. Mereka tidak percaya pada kekuatan diri sendiri. Akibatnya apabila mereka bertemu orang lain yang dianggapnya lebih hebat, mereka akan merasa khawatir kedudukannya bakal digeser, khawatir kalah reputasi dan prestasi serta kalah dalam persaingan, khawatir kalah populer, dan sebagainya.

Kekhawatiran semacam itu memang bisa dibilang wajar, tapi sebenarnya dapat dihindari dan diobati. Apabila ia mau belajar terus, meningkatkan potensi dirinya, kemampuan kerjanya, efektifitas komunikasinya, maka ia akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Selain itu ia juga akan mengalami peningkatan rasa percaya diri. Kepercayaan diri ini akan menyingkirkan segala perasaan khawatir dan tidak aman tadi. Ia tidak lagi merasa terancam karena ia yakin akan kelebihan dan kemampuannya sendiri.

Orang yang selalu merasa tidak aman biasanya adalah orang yang pada dasarnya memiliki perasaan rendah diri. Untuk menutupi kekurangannya ia akan berusaha menunjukkan pada semua orang betapa hebatnya dia. Ia berusaha memperoleh pengakuan orang lain. Sayangnya cara yang ditempuh bukan cara yang profesional melainkan cara yang kurang terpuji. Bukannya belajar dan berusaha bekerja lebih baik dan meningkatkan kinerjanya, ia justeru berusaha menjatuhkan orang lain untuk menaikkan posisinya di mata bos.

Sebenarnya perlu diingat juga bahwa bos bukan orang bodoh. Dalam hati kecilnya bos pasti tahu, upaya apa yang sedang dilakukan anak buahnya ini. Bos biasanya punya naluri yang lebih tajam sebagai hasil dari pengalamannya dan hasil komunikasinya dengan banyak orang. Jangan meremehkan bos. Jangan anggap bos tidak mengerti apa-apa. Inilah kesalahan karyawan yang sering menganggap bahwa bos dapat dibohongi karena dia tidak tahu. Anggapan itu salah. Bos tahu, tapi ada yang diam saja, dan ada pula yang langsung menegur anak buahnya. Jadi kalau bos diam saja, jangan anggap dia tidak tahu.

Beberapa orang dapat belajar lebih cepat dari orang lain bukan karena mereka lebih pintar. Mungkin ada yang lebih pintar, tapi tentu tidak semua. Yang ada adalah orang yang ingin meningkatkan dirinya, atau orang-orang yang ingin tahu lebih banyak. Yang penting adalah “niat”. Kalau dalam hatinya tidak ada niat untuk man belajar, maka berapapun kesempatan yang diberikan akan dilewatinya. Tapi orang yang berniat belajar, berniat meningkatkan dirinya, akan belajar dan menimba pengetahuan dan wawasan dari segala hal yang dihadapinya dalam hidup ini.

Memang si tukang ngadu ini memiliki masalah. Mungkin masalah komunikasi, masalah kurang percaya diri, masalah kurangnya kemampuan kerja dan sebagainya. Tapi apakah ia lalu memperoleh hak untuk bersikap semaunya dan menjatuhkan semua rekan kerjanya yang lain? Kalau anak kecil yang mengadu setelah berkelahi dengan saudaranya, maka hal itu bisa dimengerti. Tapi kalau orang dewasa yang sudah bekerja masih berlaku demikian, maka jelas ia menghadapi masalah dalam hal kedewasaan. Sebenarnya bukan karena ia tidak dapat berkembang, tapi ia tidak mau berkembang. Bagaimanapun ia harus berusaha untuk memperbaiki dirinya. Belajar rendah hati dan mau belajar dari orang lain.

Apa yang harus dilakukan si korban yang diadukan ke bos? Ia dapat meningkatkan kinerjanya. Tetap berfokus pada pekerjaan. Tidak perlu membiarkan kejadian ini melemahkan semangat dan motivasi kerjanya. Apabila ia berubah dan menjadi malas, maka hal itu dapat digunakan lagi untuk menyerangnya. Si tukang adu akan mengadukannya lagi. Kalau sampai bos melihat bahwa ia memang kurang bersemangat atau kinerjanya menurun, maka bos bisa bimbang dan mulai meragukan kemampuannya. Bisa-bisa bos beranggapan bahwa ia memang kurang becus.

Tapi kalau ia tetap bekerja baik, tetap bersikap profesional, maka kepercayaan orang lain terhadapnya juga meningkat.

Dalam menghadapi tukang adu seperti itu, tidak perlu emosional. Istilah gampangnya, jangan dimasukkan ke hati. Anggap enteng saja supaya tidak mengganggu kinerja diri sendiri. Ingat bahwa bos tidak bodoh. Ia bahkan lebih berpengalaman dibanding kita. Kalau kinerja terus meningkat dan semua orang melihat hasilnya, maka apapun yang dikatakan oleh si tukang adu tidak akan berpengaruh lagi.

Memang diperlukan hati yang lapang untuk dapat maju terus di tengah semak belukar yang lebat. Namun sekali kita tahu bagaimana cara melewati semak itu, maka semak berikutnya akan terasa ringan dan lebih mudah. Bukankah kata orang, semakin tinggi sebatang pohon, maka semakin keras angin yang menerpanya? Tapi jangan lupa, bahwa akarnya juga semakin kuat. Kalau tidak ingin diterpa angin, jadilah pohon kecil yang berlindung di bawah pohon besar.

Memang dalam hidup ini kita akan bertemu orang-orang yang mungkin tidak sama dengan kita atau tidak sesuai dengan harapan kita. Tapi inilah hidup. Kita tidak dapat memaksa untuk mengubah semua orang yang berbeda dengan kita, bukan? Jadi sebaiknya tetap kejar cita-cita, keinginan dan tujuan hidup kita dan jangan biarkan orang lain mengurangi semangat dan motivasi kerja pribadi. Orang seperti mereka seringkali juga bermuka dua. Dia tidak akan terang-terangan membenci kita. Malah mungkin ia akan bersikap seakan-akan ia cocok dengan kita. Ia akan bersikap akrab, baik, mau mengerti masalah kita, dan seakan bisa dipercaya.

Untuk menunjukkan bahwa ia baik, ia tak segan-segan menceritakan masalah pribadinya. Ia berani menceritakan hal-hal yang pribadi sekalipun sehingga kita merasa dipercaya. Ia yakin bahwa kita tidak akan menceritakannya pada orang lain. Sikapnya itu akan membuat kita terlena sehingga kita mulai membuka diri dan mulai menunjukkan kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita yang nantinya akan dipakai sebagai senjata untuk menyerang balik.

Terhadap orang yang bermuka dua seperti itu, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan:

1. Tidak perlu terlalu akrab dengan dia. Apabila terlalu akrab, maka ia dapat mengaku sebagai orang yang paling dekat dengan kita sehingga perkataannya dapat dipercaya. Apalagi bila orang lain melihat kita sering berdiskusi dengannya, bisa jadi orang akan lebih percaya padanya.
2. Tidak perlu banyak bercerita padanya. Jangan terpancing dengan keramahannya, sehingga kita menceritakan kesulitan pribadi atau masalah pribadi padanya. Hal tersebut bisa digunakan untuk menyerang balik diri kita.
3. Bersikap wajar. Tidak perlu bersikap sombong atau angkuh terhadapnya. Bersikap wajar akan membuat ia kebingungan karena tak berhasil memancing hal-hal negatif dari diri kita.
4. Buat si tukang adu jera. Menghadap atasan terlebih sering untuk melaporkan perkembangan pekerjaan. Usahakan menghadap atasan sebelum si tukang adu menghadap. Boleh juga menegurnya di depan atasan, asal tetap tenang dan tidak emosional.

Tetap tingkatkan kinerja agar atasan melihat basil kerja yang baik.

One response to this post.

  1. Posted by lindaaryanti on December 31, 2008 at 9:08 AM

    hmhm mo comment apa yach

    rasanya kehidupan kaya artikel di atas

    di manapun kita berada rasanya seperti selalu ada

    gmn yach , orang2 seperti itu kasihan rasnaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: